Jumat, 21 Juli 2017

Mitos Dan Metode Ilmiah



MITOS DAN METODE ILMIAH


A.   Proses Perkembangan Pola Pikir Manusia
1.  Apa dan Bagaimana Rasa Ingin Tahu yang Terjadi di Dalam Perkembangan Pola Pikir Manusia?
Semua makhluk hidup termasuk manusia mempunyai tanggapan terhadap rangsangan dari lingkungan. Manusia mempunyai naluri seperti tumbuhan dan hewan, tetapi manusia mempunyai akal-budi, sehingga rasa ingin tahu tersebut tidak sepanjang zaman. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang, rasa ingin tahu pada manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Apabila suatu masalah sudah dipecahkan, maka akan ada masalah lain yang menunggu pemecahannnya.
       2.  Bagaimana Mitos, Pro dan Kontra yang Terjadi Di Dalam Masyarakat?
Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun pengalamannya, manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhan alam fikirannya. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan yang diyakini manusia menurut pemikirannya itulah yang disebut mitos.
Mitos timbul karena keterbatasan alat indera manusia diantarnya:
·         Alat penglihatan ( contoh pelangi seperti selendang bidadari )
·         Alat pendengaran ( contoh suara guntur dianggap suara setan yang dicambuk )
·         Alat pencuim dan pengecap
·         Alat perasa ( contoh bulu kuduk berdiri karna hawa dingin, dikira ada setan yang mendekat)
Mitos dapat diterima pada masyarakat masa lalu karena:
·         Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan oleh penginderaan, baik langsung maupun dengan alat.
·          Keterbatasan penalaran manusia pada waktu itu.
·         Terpenuhinya rasa ingin tahu.
Puncak mitos seprti diatas terjadi pada zaman Babylona yaitu kira-kira 700-600 SM.
3. Bagaimana Sikap Ilmiah, Metode Ilmiah, dan Langkah-Langkah Oprasional Metode Ilmiah dalam Proses Perkembangan pola Pikir Manusia?
Untuk membuat kriteria yang tepat dalam pembentukan sikap ilmiah memang sukar, tapi berdasarkan beberapa literatur dirumuskan sebagai berikut:
1.      Memiliki kuriositas yang tinggi dan kemampuan belajar yang besar
       Seseorang yang memiliki sikap ilmiah apabila melihat peristiwa atau gejala alam akan terangsang untuk ingin tahu lebih lanjut apa, bagaimana, mengapa peristiwa atau gejala itu.
2.      Tidak dapat menerima kebenaran tanpa bukti
3.       Jujur
4.      Terbuka
5.      Toleran
6.      Skeptis (Skeptis adalah sikap meragu-ragui )
7.      Optimis
8.      Pemberani
9.      Kreatif atau swadaya
Diatas sudah dibahas tentang sikap ilmiah, sekarang mari kita bahas tentang metode ilmiah dan langkah-langkah oprasional metode ilmiah.
·         Pengindraan
·         Masalah Atau Problema
·         Hipotesis ( dugaan sementara )
·         Eksperimen
·         Teori
4. Benarkah Al-Quran dan Hadits Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan?
Semua persolan tentang ilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan, merupakan pemikiran valid yang dianjurkan Al-Qur’an, tidak ada pertentangan sama sekali dengannya. Ilmu pengetahuan telah maju dan telah banyak pula masalahnya, namun apa yang telah tetap dan mantap dari padanya tidak bertentangan sedikit pun bertentangan dengan salah satu ayat Al-Qur;an.
Di dalam Al-Qur’an terdapat ilmu pengetahuan ilmiah yang diungkapkan dalam konteks hidayah. Misalnya, perkawinan tumbuh-tumbuhan itu ada yang zati’ dan ada yang khalti. Yang pertama adalah tumbuhan yang yang bunganya telah mengandung organ jantan dan betina. Dan yang kedua ialah tumbuhan yang organ jantannya terpisah dengan organ yang betina, seperti pohon kurma, sehingga perkawinannya melalui perpinahan. Dan diantara saran perpindahannya angin. Penjelasan demikian terdapat dalam firman-Nya;
dan kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan)....”(al-Hajr{15}:22)
Berkenaan dengan embriologi sebagiman firman Alllah:
“Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah)nsesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan padamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi”
Dalam Hadits Rasulullah SAW. Bersabda:
Dari Maqdim Ma’di Kariba, dari Rasullullah SAW., beliau bersabda, ‘ingatlah ssungguhnya aku diberi Al; Kitab (Al-Qur’an) dan semisalnya bersamanya.

Artikel:http://kulyahinternet.blogspot.co.id/2014/05/normal-0-false-false-in-x-none-ar.html?m=1




Makalah IAD Makhluk Hidup Dan Ekosistem



MAKALAH
ILMU ALAMIAH DASAR
“ Makhluk Hidup dan Ekosistem “
Diajukan untuk memenuhi tugas IAD (Ilmu Alamiah Dasar) tentang
“Makhluk Hidup dan Ekosistem “
Dosen Pembimbing: Yanto Heryanto,S.Sos.,M.Si

Disusun Oleh :
Wiranti – 116040089

LOGO_UNSWAGATI_CIREBON.jpg


JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
CIREBON
2017


KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr. Wb

Alhamdulilahirabbilalamin. Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah Makhluk Hidup Dan Ekosistem tepat pada waktunya.
            Semoga dengan adanya makalah yang penyusun buat dapat membantu mahasiswa/i khususnya Universitas Swadaya Gunung jati untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik bagi makalah yang penyusun buat.



                                                                                   



Penyusun, Cirebon 2017





  
  
DAFTAR ISI
 Halaman judul.........................................................................................................
                Kata pengantar...................................................................................i
                Daftar isi.............................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2  Rumusan Masalah.............................................................................1
1.3  Tujuan Makalah.................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN 
            2.1  Populasi, Komunitas dan Individu Makhluk Hidup.........................2
2.2 Ekosistem............................................................................................4
2.3 Aliran Energi dan Materi dalam Ekosistem......................................4
2.4  Konsep Ekosistem..............................................................................6
2.5 Unsur-Unsur Ekosistem.......................................................................6
2.6 Interaksi Antar Komponen Ekosistem...............................................8
2.7 Macam-Macam Ekosistem................................................................11
2.8 Macam-macam Bentuk Pola Kehiduan.............................................19

BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan..........................................................................................22
            3.2 Saran....................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................24


 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Makhluk hidup di alam ini menempati tempat-tempat tertentu sesuai dengan habitatnya. Ada yang hidup di air, di tanah/darat, maupun di udara. Tempat hidup di dunia ini tidak bertambah luas, sementara pertambahan jumlah makhluk hidup relatif bertambah. Hal ini menyebabkan makin banyaknya makhluk hidup yang menempati permukaan bumi sehingga ekosistem di muka bumi ini semakin sempit.
Makhluk hidup akan menjalin hubungan saling ketergantungan antar makhluk hidup di dalam komunitas. Selain itu, makhluk hidup juga akan menjalin hubungan dengan lingkungannya. Makhluk hidup sangat bergantung kepada lingkungan. Hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya akan membentuk ekosistem. Ekosistem merupakan tempat berlangsungnya hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Oleh karena itu, sangat perlu memahami konsep tentang ekosistem, komponennya dan cara untuk menjaga dan melestarikannya agar makhluk hidup dan lingkungannya dapat tetap melangsungkan hidupnya.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud populasi dan komunitas makhluk hidup ?
2.      Apa yang dimaksud dengan konsep ekosistem ?
3.      Apa saja unsur-unsur ekosistem ?
4.      Bagaimana interaksi antar komponen ekosistem ?
5.      Apa saja macam-macam ekosistem ?
6.      Apa saja macam-macam bentuk pola kehidupan ?

1.3 Tujuan Makalah.
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.      Mengetahui populasi dan komunitas makhluk hidup
2.      Konsep Ekosistem.
3.      Unsur-unsur ekosistem.
4.      Interaksi antar komponen ekosistem.
5.      Macam-macam ekosistem.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Populasi, Komunitas dan Individu Makhluk Hidup
  Populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri yang sama (spesies) yang hidup   menempati ruang yang sama pada waktu tertentu. Anggota-anggota populasi secara alamiah saling berinteraksi satu sama lain dan bereproduksi di antara sesamanya. Konsep populasi banyak dipakai dalam ekologi dan genetika. Ekologiwan memandang populasi sebagai unsur dari sistem yang lebih luas. Populasi suatu spesies adalah bagian dari suatu komunitas. Selain itu, evolusi juga bekerja melalui populasi. Ahli-ahli genetika, di sisi lain, memandang populasi sebagai sarana atau wadah bagi pertukaran alel-alel yang dimiliki oleh individu-individu anggotanya. Dinamika frekuensi alel dalam suatu populasi menjadi perhatian utama dalam kajian genetika populasi. Ada dua faktor lingkungan yang dapat menurunkan daya biak populasi, yaitu faktor bergantung pada kepadatan populasi itu sendiri, misalnya kekurangan bahan pangan, kekurangan ruang untuk hidup karena populasi terlampau padat dan faktor yang tidak tergantung pada kepadatan populasi misalnya terdapat penurunan suhu lingkungan secara drastis dan mendadak.
            Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Serigala, rusa, berang-berang, pohon cemara dan pohon birch adalah beberapa populasi yang membentuk komunitas hutan di Isle Royale. Ahli ekologi mempelajari peranan masing-masing spesies yang berbeda di dalam komunitas mereka. Mereka juga mempelajari tipe komunitas lain dan bagaimana mereka berubah. Beberapa komunitas seperti hutan yang terisolasi atau padang rumput dapat diidentifikasi secara mudah, sementara yang lainnya sangat sulit untuk dipastikan.
            Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”. (Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi 3 komponen:
  1. berdasarkan Lokasi atau Tempat Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis.
  2. berdasarkan Minat.
  3. berdasarkan Komuni. Komuni dapat berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri
Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapatlah diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tersebut.  Komunitas dengan populasi ibarat makhluk dengan sistem organnya, tetapi dengan tingkat organisasi yang lebih tinggi sehingga memiliki sifat yang khusus atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh baik sistem organ maupun organisasi hidup lainnya. Perubahan komunitas yang sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi akan berlangsung terus sampai pada suatu saat terjadi suatu komunitas padat sehingga timbulnya jenis tumbuhan atau hewan baru akan kecil sekali kemungkinannya.  Namun, perubahan akan selalu terjadi.  Oleh karena itu, komunitas padat yang stabil tidak mungkin dapat dicapai.  Perubahan komunitas tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni baru, tetapi juga hilangnya penghuni yang pertama. Sering terjadi, spesies tumbuhan dan hewan dijumpai berulangkali dalam berbagai komunitas dan menjalankan fungsi yang agak berbeda.  Kombinasi antara habitat , tempat suatu spesies hidup, dengan fungsi spesies dalam habitat itu memberikan pengertian nicia (niche). Konsep nicia ini penting karena selain dapat digunakan untuk meramal macam tumbuhan dan hewan yang dapat ditemukan dalam suatu komunitas, juga dipakai untuk menaksir kepadatan serta fungsinya pada suatu musim.  Kepadatan individu dalam suatu populasi langsung dapat dikaitkan dengan pengertian keanekaragaman.  Istilah ini dapat diterapkan pada berbagai bentuk, sifat, dan ciri suatu komunitas.  Misalnya, keanekaragaman di dalam spesies, keanekaragaman dalam pola penyebaran.  Margalef (1958) mengemukakan bahwa untuk menentukan keanekaragaman komunitas perlu dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam organisasi komuniatsnya.  Misalnya mengalokasikan individu populasinya ke dalam spesiesnya, menempatkan spesies tersebut ke dalam habitatnya, menentukan kepadatan relatifnya dalam habitat tersebut  dan menempatkan setiap individu ke dalam tiap habitatnya dan menentukan fungsinya. Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitsas tersebut.  Hal ini menunjukkan tingkat kedewasaannya sehingga keadaannya lebih mantap.  Komunitas, seperti halnya tingkat organisasi makhluk hidup lain, juga mengalami serta menjalani siklus hidup.

Individu adalah suatu struktur yang membangun suatu kehidupan dalam bentuk organisme.  Jika kita bayangkan pandangan ke sebuah kebun, maka kita mungkin akan menemukan beberapa tumbuhan, misalnya pohon jambu, pohon pisang, jahe, rumput, dan sebagainya.  Setiap pohon disebut individu.  Dengan demikian kita katakan individu pisang, individu jambu, individu jahu dan sebagainya.
2.2 Ekosistem
Suatu organisme tidak akan dapat hidup mandiri tanpa kehadiran organisme lain serta mengabaikan sumber daya alam yang merupakan sumber pangan, tempat perlindungan dan tempat perkembangbiakan.  Suatu konsep sentral dalam ekologi adalah ekosistem, suatu sistem yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ekosistem adalah tatanan satuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.  Ekosistem tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan, tetapi juga dalam bentuk materi yang melakukan siklus dalam sistem itu dan energi yang menjadi sumber kekuatan bagi ekosistem.
Ekosistem dibentuk oleh komponen hidup dan tak hidup, disuatu tempat dan beriteraksi dalam satu kesatuan yang teratur.  Ditinjau dari segi komponen-komponennya, ekosistem dapat dibedakan menjadi :
1.      Autotrofik, yaitu organisme yang dapat mensintesiskan makanannya sendiri atau dapat menyediakan makanannya sendiri.  Organisme tersebut mengubah bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik dengan bantuan energi matahari dalam butir-butir hijau daun atau  klorofil
2.      Heterotrofik, yaitu organisme yang hanya dapat memanfaatkan bahan makanan yang disediakan oleh organisme lain

2.3 Aliran Energi dan Materi dalam Ekosistem
Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis.  Pembentukkan jaringan hidup selanjutnya tentu saja bergantung pula pada kemampuan tumbuhan menyerap berbagai bahan mineral dari dalam tanah, yang seterusnya diolah dalam proses metabolisme.  Beberapa bagian jaringan hidup yang dibentuk seperti daun, buah, biji, dan umbi dapat dimakan oleh herbivora. Kemudian hewan itu menjadi mangsa karnivora yang lebih besar.
Akhirnya, semua jaringan hidup, baik  dari  hewan maupun tumbuhan akan mati, jatuh ke tanah sebagai sampah dan menjadi bahan makanan bagi aneka ragam mikroba tanah.  Sampah tumbuhan dan hewan ini diubah oleh mikroba tanah melalui proses pembusukan menjadi humus serta diuraikan menjadi bahan mineral melalui proses mineralisasi.  Jadi, di dalam tanah dijumpai dua jenis mikroba, yaitu mikroba pembusuk dan mikroba pengurai. Berdasarkan uraian singkat ini, tampak bahwa dalam sebuah ekosistem terdapat rantai makanan.     
Aliran materi seperti nutrien, air, karbon, nitrogen dan fosfor di alam berupa siklus yang abadi.  Sedangkan aliran energi berupa rantai makanan dan jaring makanan dari komponen produsen, konsumen, dan perombakpengurai.  Aliran energi ini berupa simbiosis antar organisme yang saling membutuhkan.  Hubungan antar komponen biasanya dibuat dalam bentuk piramida ekologis, seperti piramida jumlah individu, piramida biomassa, dan piramida energi.
Siklus biogeokimia atau siklus organik anorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Siklus tersebut antara lain:
1.      Siklus Nitrogen (N2). Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem.
2.      Siklus Fosfor. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Fosfor dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus-menerus.
3.      Siklus Karbon dan Oksigen. Karbondioksida di udara diimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan manusia dan hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar CO2 di udara.

2.4 Konsep Ekosistem.
            Konsep ekosistem berasal dari dua kata yaitu konsep dan ekosistem. Istilah konsep berasal dari bahasa latin conceptum, artinya sesuatu yang dipahami. Sedangkan menurut wikipedia indonesia Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Menurut UU No.23, Tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup :
"Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup."
            Jadi dapat disimpulkan bahwa konsep ekosistem adalah pemahaman suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

2.5 Unsur-Unsur Ekosistem
Ekositem juga merupakan suatu sistem ekologik yang merupakan unit fungsional yang dihasilkan dari interaksi komponen biotic (makhluk hidup atau organisme), komponen abiotik (benda mati), dan juga komponen kebudayaan (antropogenik). Kedua komponen yaitu biotik dan abiotik tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur.
Ekosistem tersusun atas dua unsur atau komponen utama, yaitu :
1.      Komponen abiotik
Komponen abiotik adalah komponen ekosistem yang terdiri dari makhluk tak hidup atau benda mati, meliputi :
a.       Tanah
Sifat-sifat fisik tanah yang berperan dalam ekosistem meliputi tekstur, kematangan, dan kemampuan menahan air.


b.      Air
Persediaan air dipermukaan tanah akan mempengaruhi kehidupan tumbuhan dan hewan. Hal-hal penting pada air yang mempengaruhi kehidupan makhluk hidup adalah suhu air, kadar mineral air, salinitas, arus air, penguapan, dan kedalaman air.

c.       Udara
Udara merupakan lingkungan abiotik yang berupa gas yang berbentuk atmosfer yang melingkupi makhluk hidup. Oksigen, karbondioksida, dan nitrogen merupakan gas yang paling penting bagi kehidupan makhluk hidup.

d.      Cahaya matahari
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan dibumi ini. Salah satunya sebagai faktor utama yang diperlukan dalam proses fotosintesis.

e.       Suhu atau temperature
Setiap makhluk hidup memerlukan suhu yang optimal untuk kegiatan metabolisme dan perkembangbiakannya.

2.      Komponen biotik
Komponen biotik adalah komponen ekosistem yang terdiri dari makhluk hidup yang meliputi tumbuhan, hewan, dan manusia.
Berdasarkan peranannya komponen biotik dalam ekosistem dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a)      Produsen
Produsen adalah makhluk hidup yang dapat membuat makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis.
Contoh : semua tumbuhan hijau

b)      Konsumen
Konsumen adalah makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanan sendiri dan menggunakan makanan yang dihasilkan oleh produsen baik secara langsung maupun tidak langsung.
Contoh : hewan dan manusia

Berdasarkan tingkatannya konsumen dibedakan menjadi empat, yaitu :
1.      Konsumen I/primer.
Konsumen I/primer adalah konsumen/makhluk hidup yang memakan produsen.
Contoh : herbivora/hewan pemakan tumbuhan.
2.      Konsumen II/sekunder
Konsumen II/sekunder adalah konsumen/makhluk hidup yang memakan konsumen I.
Contoh : karnivora/hewan pemakan daging
3.      Konsumen III/tertier
Konsumen III/tertier adalah konsumen/makhluk hidup yang memakan konsumen II.
Contoh : omnivora/hewan pemakan segala.
4.      Konsumen puncak
Konsumen puncak adalah konsumen terakhir atau hewan yang menduduki urutan teratas dalam peristiwa makan dimakan.

c)      Pengurai
Pengurai disebut juga redusen adalah jasad renik yang dapat menguraikan makhluk lain menjadi zat hara.
Contoh : bakteri dan jamur.

2.6 Interaksi Antar Komponen Ekosistem.
Dalam ekosistem juga terjadi hubungan timbal balik dan saling ketergantungan antara komponen biotik dan komponen abiotik atau dengan lingkungan. Adapun bentuk interaksi dalam ekosistem yaitu:
1.      Interaksi antara komponen biotik dan abiotik.
Komponen biotik dapat mempengaruhi komponen abiotik dalam ekosistem, demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh, setiap tumbuhan mengambil air dari lingkungannya (dari dalam tanah), tetapi tumbuhan juga membebaskan air ke lingkungan (ke udara) dalam bentuk uap air. Bersama uap air dari sumber yang lain akan terbentuk awan dan turun sebagai hujan. Akhirnya air meresap ke dalam tanah (kembali lagi ke tanah). Di samping itu, tumbuhan juga mengambil zat hara dari tanah, namun juga mengembalikannya lagi dalam bentuk ranting, dedaunan, dan sisa tumbuhan yang telah lapuk dan mengalami penguraian.


Contoh lainnya yaitu padi selain membutuhkan sinar matahari untuk proses fotosintesis sebagai penghasil sumber makanannya, juga membutuhkan udara sekitar untuk bernapas serta membutuhkan air dan tanah agar dapat tumbuh. Cacing tanah membutuhkan sisa-sisa bahan fragmen (remukan) tanaman padi sebagai makanannya dan membuat lubang tanah sebagai tempat tinggalnya. Setelah cacing tanah mati akan terurai menjadi bahan organik (zat hara) seperti karbon, nitrogen, oksigen, pospor, dan belerang di dalam tanah atau yang terdapat di atmosfer bagi kebutuhan tanaman padi untuk kelangsungan hidupnya.
Dari contoh tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa di antara komponen-komponen abiotik seperti udara, tanah, air, dan cahaya serta komponen-komponen biotik, yaitu tumbuhan dan cacing terjadi interaksi atau hubungan sehingga terjadi saling ketergantungan.

2.      Interaksi antar komponen biotik.
Komponen biotik secara timbal balik dapat memengaruhi komponen biotik lainnya. Sebagai contoh dalam peristiwa simbiosis, masing-masing simbion mempengaruhi satu sama lain. Seekor lebah menghisap madu dari sekuntum bunga, lebah mendapatkan makanan (berupa madu) dari bunga, namun lebah juga menjadi perantara penyerbukan bunga tersebut. Berdasarkan contoh tersebut dapat dilihat bahwa antar komponen dalam ekosistem terjadi hubungan timbal balik.
Interaksi antar komponen biotik dalam ekosistem dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut :
a.       Interaksi intraspesifik.
Interaksi intraspesifik yaitu interaksi antar individu dalam satu spesies. Sebagai contoh misalnya dalam koloni lebah madu (Aphis sp.) atau pada koloni rayap (Termit). Pada masing-masing koloni terdapat pembagian kerja yang sangat rapi antara ratu, prajurit, maupun pekerja. Interaksi pada koloni rayap dan lebah ini lebih bersifat saling membantu dan menguntungkan.

b.      Interaksi interspesifik.
Interaksi interspesifik yaitu interaksi antar individu yang berbeda spesies. Interaksi interspesifik dibagi menjadi beberapa bentuk sebagai berikut:



·         Predasi
Predasi merupakan interaksi antara organisme pemangsa (predator) dengan mangsanya (prey). Contohnya interaksi antara seekor harimau (predator) dengan seekor kijang (prey), interaksi antara kucing dengan tikus.
·         Kompetisi.
Kompetisi merupakan interaksi antara dua individu (dapat berbeda atau dalam satu spesies) berupa persaingan. Interaksi ini dapat terjadi karena terdapat kepentingan yang sama antar individu yang bersaing (kompetitor). Misalnya persaingan mendapatkan makanan, persaingan mendapatkan daerah/wilayah kekuasaan (dominasi), berebut wilayah mencari makan (feeding ground), berebut tempat tinggal (sarang), berebut pasangan.
·         Simbiosis.
Simbiosis merupakan kehidupan bersama antara dua makhluk hidup atau lebih berbeda spesies dalam hubungan yang erat. Simbiosis dibagi lagi menjadi beberapa bentuk yaitu:
a.       Simbiosis Mutualisme
Simbiosis Mutualisme merupakan hubungan simbiotik yang menguntungkan kedua belah pihak.
Contohnya : simbiosis antara bakteri Rhizobium dengan akar tanaman Leguminoceae. Bakteri membantu menambat (fiksasi) nitrogen dari udara untuk kepentingan tumbuhan, tapi bakteri juga memperoleh senyawa organik sebagai sumber makanan dari tanaman Leguminoceae.
b.      Simbiosis Komensalisme
Simbiosis Komensalisme merupakan hubungan simbiotik yang menguntungkan salah satu pihak, tapi pihak lain tidak dirugikan.
Contohnya : ikan hiu dengan ikan remora.
c.       Simbiosis Parasitisme
Simbiosis Parasitisme merupakan hubungan simbiotik yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.
Contohnya : benalu dengan pohon inang, cacing pita dengan inangnya, cacing hati dengan inangnya.


·         Netral
Netral merupakan kehidupan bersama antara populasi dua spesies atau lebih dalam satu daerah dan masing-masing populasi tersebut tidak saling mengganggu.
Contoh : seekor cacing dengan belalang di sawah.

3.      Interaksi antar komponen abiotik.
Komponen abiotik dapat mempengaruhi komponen abiotik lain secara timbal balik. Sebagai contoh, jika intensitas cahaya matahari yang mengenai suatu perairan meningkat mengakibatkan laju penguapan meningkat. Dari peristiwa tersebut terbentuklah awan yang apabila dalam jumlah banyak dapat menghalangi sinar matahari ke bumi, sehingga intensitas cahaya matahari ke bumi berkurang, di samping juga dapat menyebabkan hujan yang airnya kembali lagi ke perairan.
Jika antar komponen dalam ekosistem terjadi hubungan yang dinamis, perubahan dalam batas-batas tertentu tidak akan menimbulkan gangguan dalam ekosistem tersebut. Ini berarti ekosistem tersebut telah mencapai keseimbangan yang baik, dengan kata lain telah mencapai kondisi homeostatis. Ekosistem dalam keadaan homeostatis penting untuk dipertahankan, agar keseimbangan ekosistem selalu terjaga dari generasi ke generasi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh manusia jangan sampai mengganggu keadaan homeostatis tersebut.

2.7 Macam-Macam Ekosistem.
Di bumi ada bermacam-macam ekosistem, yaitu ekosistem alam dan buatan.
A.    Ekosistem Alam.
 Secara garis besar ekosistem alam dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan.
1.      Ekosistem Darat
Ekosistem darat adalah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat meliputi :
a.       Gurun
Gurun dan setengah gurun banyak ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, Australia dan Asia Barat.


Ciri-ciri dari gurun meliputi :
·         Curah hujan sangat rendah, ± 25 cm/tahun
·         Kecepatan penguapan air lebih cepat dari presipitasi
·         Kelembaban udara sangat rendah
Perbedaan suhu siang hari dengan malam hari sangat tinggi (siang dapat mencapai 45 C, malam dapat turun sampai 0 C)
·         Tanah sangat tandus karena tidak mampu menyimpan air

Lingkungan biotik dari gurun meliputi :
·         Flora
tumbuhan yang tumbuh adalah tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan daerah kering (tumbuhan serofit).
·         Fauna
hewan besar yang hidup di gurun umumnya yang mampu menyimpan air, misalnya unta, sedang untuk hewan-hewan kecil misalnya kadal, ular, tikus, semut, umumnya hanya aktif hidup pada pagi hari, pada siang hari yang terik mereka hidup pada lubang-lubang.
Beberapa bioma gurun terdapat di daerah tropik (sepanjang garis khatulistiwa) yang berbatasan dengan padang rumput.

b.      Padang Rumput.
Padang rumput membentang mulai dari daerah tropis sampai dengan daerah beriklim sedang, seperti Hongaria, Rusia Selatan, Asia Tengah, Amerika Selatan, Australia.
Ciri-ciri dari padang rumput meliputi :
·         Curah hujan antara 25 - 50 cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat mencapai 100 cm/tahun.
·         Curah hujan yang relatif rendah turun secara tidak teratur.
·         Turunnya hujan yang tidak teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik sehingga tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.




Lingkungan biotik dari padang rumput meliputi :
·         Flora
Tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan daerah dengan porositas dan drainase kurang baik adalah rumput, meskipun ada pula tumbuhan lain yang hidup selain rumput, tetapi karena mereka merupakan vegetasi yang dominan maka disebut padang rumput. Nama padang rumput bermacam-macam seperti stepa di Rusia Selatan, puzta di Hongaria, prairi di Amerika Utara dan pampa di Argentina.
·         Fauna
Bison dan kuda liar (mustang) di Amerika, gajah dan jerapah di Afrika, domba dan kanguru diAustralia. Karnivora: singa, srigala, anjing liar, cheeta.

c.       Hutan Hujan Tropik
Hutan tropis memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan yang paling tinggi. Meliputi daerah aliran sungai Amazone-Orinaco, Amerika Tengah, sebagian besar daerah Asia Tenggara dan Papua Nugini, dan lembah Kongo di Afrika.

Ciri-ciri dari hutan hujan tropik meliputi :
·         Curah hujannya tinggi, merata sepanjang tahun, yaitu antara 200 - 225 cm/tahun.
·         Matahari bersinar sepanjang tahun.
·         Dari bulan satu ke bulan yang lain perubahan suhunya relatif kecil.
·         Dibawah kanopi atau tudung pohon, gelap sepanjang hari, sehingga tidak ada perubahan suhu antara siang dan malam hari.
·         Flora pada bioma hutan tropis terdapat beratus-ratus spesies tumbuhan. Pohon-pohon utama dapat mencapai ketinggian 20 - 40 m, dengan cabang-cabang berdaun lebat sehingga membentuk suatu tudung atau kanopi.
Tumbuhan khas yang dijumpai adalah liana dan epifit. Liana adalah tumbuhan yang menjalar di permukaan hutan, contoh: rotan. Epifit adalah tumbuhan yang menempel pada batang-batang pohon, dan tidak merugikan pohon tersebut, contoh: Anggrek, paku Sarang Burung.
·         Faun di daerah tudung yang cukup sinar matahari, pada siang hari hidup hewan-hewan yang bersifat diurnal yaitu hewan yang aktif pada siang hari, di daerah bawah kanopi dan daerah dasar hidup hewan-hewan yang bersifat nokfurnal yaitu hewan yang aktif pada malam hari, misalnya: burung hantu, babi hutan,kucing hutan, macan tutul.
d.      Hutan Gugur (Deciduous Forest)
Ciri khas hutan gugur adalah tumbuhannya sewaktu musim dingin, daun-daunnya meranggas. Bioma ini dapat dijumpai di Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili.
Ciri-ciri dari hutan gugur meliputi :
·         Curah hujan merata sepanjang tahun, 75 - 100 cm/tahun.
·         Mempunyai 4 musim: musim panas, musim dingin, musim gugur dan musim semi
·         Keanekaragaman jenis tumbuhan lebih rendah daripada bioma hutan tropis.

Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon tinggi tumbuh dengan baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak begitu lebat tumbuhnya. Konsumen yang ada di daerah ini adalah serangga, burung, bajing, dan racoon yaitu hewan sebangsa luwak/musang.
Pada saat menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, suhu mulai turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah, coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur.
Pada saat musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosentesis. Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin). Menjelang musim panas, suhu naik, salju mencair, tumbuhan mulai berdaun kembali (bersemi) sehingga disebut musim semi.

e.       Taiga & Tundra

a)      Taiga.
Taiga terdapat di belahan bumi se­belah utara dan di pegunungan daerah tropik.
Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.




b)      Tundra
Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tumbuhan di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, lumut kerak, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya : karibou, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.

2.      Ekosistem perairan.
Ekosistem perairan dibagi menjadi dua yaitu air tawar dan air laut.
a.       Ekosistem Air Tawar.
Ekosistem air tawar mempunyai ciri-ciri abiotik sebagai berikut :
·         Memiliki tingkat kadar garam yang rendah, bahkan lebih rendah dibanding cairan sel makhluk hidup.
·         Dipengaruhi oleh cuaca dan iklim.
·         Cahaya matahari yang kurang.

Berdasarkan keadaan airnya, ekosistem air tawar terbagi atas dua macam yaitu ekosistem air tawar lentik (tenang) dan ekosistem air tawar lotik (mengalir) dimana ekosistem air tawar lentik misalnya rawa dan danau. Ekosistem air lotik, semisal air terjun dan sungai.
Kemudian ditinjau dari intensitas cahaya matahari yang menembus air, ekosistem air tawar dibagi menjadi beberapa wilayah atau zona yaitu :
1.      Zona Litoral.
Zona Litoral adalah daerah pangkal yang mampu ditembus cahaya matahari.
2.      Zona Limnetik.
Zona Limnetik adalah daerah yang terbuka dari tepian sampai berada pada kedalaman yang masih ditembus cahaya matahari.
3.      Zona Profundal.
Zona Profundal adalah daerah yang dalam dan tidak dapat ditembus cahaya matahari. Didaerah ini tidak ditemukan organisme yang fotosintetik tetapi ditempati oleh hewan pemangsa dan organisme pengurai.
b.      Ekosistem Air laut
Ekosistem air laut memiliki karakteristik atau ciri-ciri abiotik sebagai berikut.
·         Tingkat kadar garam yang tinggi.
·         Tidak berpengaruh pada iklim dan cuaca.
·         Habitat air laut saling berhubungan antara laut yang satu dengan laut lainnya.
·         Terdapat perbedaan suhu yang ada dipermukaan dengan dikedalaman laut.
·         Arus lautnya dapat dipengaruhi oleh arah angin, perbedaan massa jenis air, suhu tekanan air, gravitasi, dan gaya tektonik batuan bumi.

Berdasarkan intensitas cahaya matahari yang menembus air, maka ekosistem air laut terbagi beberapa wilayah atau zona, yaitu :
·         Zona Fotik
Zona Fotik adalah daerah yang dapat ditembus oleh cahaya matahai di kedalaman air kurang dari 200 meter dan para Organisme masih mampu berfotosintesis di zona fotik.
·         Zona Twilight
Zona Twilight adalah daerah dengan kedalaman air 200-2000 meter dimana cahaya matahari remang-remang sehingga tidak efektif untuk berfotosintesis.
·         Zona Afotik
Zona Afotik adalah daerah yang tidak dapat ditembus cahaya matahari sehinggga selalu gelap. Kedalaman air lebih dari 2000 meter.

Adapun pembagian zona ekosistem air laut dimulai dari pantai hingga ke tengah laut, yaitu:
1.      Zona Litoral
Zona Litoral adalah daerah yang terendam saat terjadi pasang dan seperti daratan saat air laut sedang surut. Zona ini berbatasan dengan daratan dan banyak didiami oleh kelompo hewan seperti  bulu babi, udang, kepiting, bintang laut dan cacing laut.
2.      Zona Neritik
Zona Neritik adalah daerah laut dangkal, kurang dari 200 m. Zona tersebut mampu ditembus oleh cahaya matahari dan banyak ikan dan ganggang yang menempati zona ini.
3.      Zona Batial
Zona Batial adalah daerah yang memiliki kedalaman air 200 m-2000 m dengan keadaan yang remang-remang. Di zona ini tidak ditemui produsen tetapi banyak nekton seperti ikan.
4.      Zona Abisal
Zona Abisal adalah daerah palung laut yang keadaannya gelap. Kedalaman air di zona abisal lebih dari 2000 m. Zona ini dihuni oleh hewan predator, detritivor dan pengurai.

Berikut ini macam-macam ekosistem air laut.
1.      Ekosistem laut dalam
Ekosistem laut dalam terdapat di laut dalam atau palung laut yang gelap karena tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Pada ekosistem air laut dalam tidak
ditemukan produsen. Organisme yang dominan, yaitu predator dan ikan yang pada penutup kulitnya mengandung fosfor sehingga dapat bercahaya di tempat yang gelap.

2.      Ekosistem terumbu karang.
Ekosistem terumbu karang ada dilaut yang dangkal dengan airnya yang jernih. Organisme yang ada di ekosistem ini yaitu hewan terumbu karang, hewan spons, mollusca, bintang laut, ikan dan ganggang. 

3.      Ekosistem Estuari
Ekosistem estuari ada didaerah percampuran air laut dengan air sungai. Salinitas air di estuari lebih rendah dibanding air laut, tetapi lebih tinggi dibanding air tawar, yaitu sekitar 5-25 ppm.
Di ekosistem estuari dapat ditemukan tipe ekosistem yang khas, yaitu padang lamun dan hutan mangrove.
·         Ekosistem Padang Lamun
Padang Lamun adalah pantai yang biasanya ditumbuhi seagrass.Tumbuhan ini memiliki serabut akar dan rizom, batang, daun, bunga bahkan berbiah. Seagrass berbeda dengan alga karena mempunyai sistem reproduksi dan pertumbuhan yang sangat khas. Seagrass tumbuh menyebar di padang rumput di dalam air dengan perpanjangan rizom. Hewan yang ada di padang lamun yaitu duyung, bulu babi, kepiting renang, penyu dan udang.

·         Ekosistem Hutan Mangrove
Ekosistem hutan mangrove terdapat didaerah tropis hingga subtropis. Ekosistem ini didominasi oleh tanaman bakau, kayu api, dan bogem. Tumbuhan bakau memiliki akar yang sangat kuat dan rapat untuk bisa bertahan di lingkungan yang berlumpu yang mudah goyah oleh hempasan air laut. Akar napasnya berfungsi untuk mengambil oksigen langsung dari udar. Tumbuhan bakau juga memiliki buah dengan biji vivipar yang berkecambah dan memiliki akar yang panjang saat masih di dalam buah sehingga langsung tumbuh ketika jatuh ke lumpur. Kelompok hewan yang hidup di ekosistem ini yaitu buaya, ikan, biawak, siput, kesrang, kepiting, burung, dan udang. Hutan mangrove banyak terdapat di pesisir Pulau Jawa, Sumatra, Papua, Kalimantan, Bali, Papua, dan Sumbawa.

4.      Ekosistem Pantai Pasir
Ekosistem pantai pasir terdiri atas hamparan pasir yang selalu terkena deburan ombak. Di tempat ini selalu angin bertiup kencang dan cahaya matahari yang selalu bersinar kuat di siang hari.
Kemudian tumbuhan atau vegetasi yang dominan diekosistem pantai pasir ini yaitu formasi pes-caprae, vigna marina dan spinifex littoreus. Formasi Barringtonia, terdiri atas pohon dan perdu, semisal Barringtonia asiativa, erythrina, hibiscus tiliaceus, terminalia catappa dan hernandia. Hewan yang hidup di pantai pasir seperti burung dan kepiting. Pantai pasir terdapat di Lombok, papua, bengkulu, bantul dan bali.

5.      Ekosistem pantai batu.
Ekosistem pantai batu memiliki banyak bongkahan batu besar maupun kecil. Organisme yang paling dominan di ekosistem pantai batu yaitu ganggang merah, siput, ganggang cokelat, burung dan kepiting. Ekosistem pantai batu banyak terdapat di pantai selatan jawa, Bali, Nusa tenggara, maluku dan Sumatra.

B.     Ekosistem Buatan.
            Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.
Berikut macam-macam ekosistem buatan :
1.      Bendungan
Suatu ekosistem buatan yang berupa bangunan penahan atau penimbun air untuk berbagai keperluan. misalnya irigasi, pembangkit listrik.

2.      Hutan tanaman industri.
Hutan yang sengaja ditanami dengan jenis tanaman industri. Jenis tanaman yang umum ditanam adalah pinus, mahoni, rasamala, dammar, dan jati.

3.      Agroekosistem.
Suatu ekosistem buatan berupa ekosistem pertanian. misalnya sawah irigasi, sawah tadah hujan, sawah surjan, sawah rawa, sawah pasang surut, perkebunan (teh, kopi kelapa sawit, dan karet), kolam tambak, ladang, dan pekarangan.

2.8 Macam-macam Bentuk Pola Kehidupan
Iklim, tumbuhan dan hewan merupakan ekosistem skala besar yang disebut daerah habitat atau bioma.  Kondisi suatu bioma dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik.  Faktor abiotik di padang pasir berupa pasir, batuan-batuan, sedangkan faktor biotiknya berupa kaktus dan unta.  Kondisi di daerah pantai wujud abiotiknya adalah pasir panati atau lumpur, sedangkan hewannya berupa ikan atau buaya.
1.      Daerah Tropis
Terletak disepanjang khatulistiwa antara 23,5 derajat Lintang Utara dan 25,5 derajat Lintang Selatan, beriklim panas. Lingkungan abiotiknya adalah matahari bersinar sepanjang tahun, perubahan suhu hanya sedikit, curah hujannya tinggi, merata sepanjang tahun antara 200-225 cm per tahun.
Dalam kondisi tersebut di bawah biomanya terdapat ribuan spesies tumbuhan yang dapat membentuk suatu hutan tropis dengan ciri-ciri sebagai berikut :
·         Pohon-pohon besar dan tinggi yang dapat mencapai 20-40 meter
·         Cabang pohon panjang dan banyak yang membentuk naungan pohon yang luas
·         Dalam naungan pohon hidup tumbuhan yang menempel (epifit) yang melakukan adaptasi dengan lingkungan kering karena hidup dari air dan curah hujan yang dikandung cabang atau batang pohon tempatnya menempel
·         Tanah di bawahnya hampir tidak ada sinar matahari yang menyebabkan tanaman merambat, menjalar ke atas seperti rotan.
·         Tanaman perdu masih dapat hidup dalam kanopi tanaman besar sehingga tercipta tingkatan kehidupan
·         Yang di bawah suhu hampir tidak terasa, hidup rumput dan lumut sebagai makanan hewan
Dalam hutan tropis yang lebat, hidup beraneka ragam binatang, mulai dari bakteri pembusuk dalam tanah, burung, kera, sampai harimau dan binatang besar maupun binatang buas yang lain. 
2.      Daerah Sub Tropis
Terletak antara 23,5 derajat – 66,5 derajat Lintang Utara dan Lintang Selatan.  Iklimnya disebut iklim sedang.  Akibat kemiringan bumi terasa dengan adanya empat musim, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi.  Biomanya memiliki ciri-ciri curah hujan sepanjang tahun antara 75-100 cm per tahun, memiliki empat musim, hutannya merupakan luruh.  Gugurnya daun pepohonan hutan merupakan persiapan akan datangnya musim dingin, dan bersemi kembali setelah musim dingin selesai.  Yang khas didaerah sub tropis adalah adanya salju di musim dingin.  Jumlah tumbuhan di kawasan sub tropis lebih sedikit , tanaman tinggi, jarak antara pohon yang satu dengan yang lain tidak rapat dan praktis tidak ada perdu di bawahnya.  Didaerah tengah benua terdapat padang rumput karena curah hujannya sedikit, sehingga sulit bagi pohon untuk hidup dengan baik, tetapi tidak sampai menjadi gurun pasir.  Tingkat curah hujan menyebabkan tumbuhnya macam-macam rumput, ada yang tinggi sedang dan pendek.  Tanah padang rumput banyak mengandung humus, karena daun rumput yang cepat mati dan membusuk pada musim tumbuh. 
3.      Daerah Kutub
Terletak antara di bawah daerah 66,5 derajat – 90 derajat Lintang Utara atau Lintang Selatan.  Pada musim panas matahari bersinar lebih dari 12 jam sehari, sehingga malam menjadi lebih singkat, sebaliknya dalam musim dingin matahari kurang dari 12 jam, sehingga malam lebih lama.  Bioma yang khas di daerah beriklim dingin ini adalah hutan taiga yang pohonnya terdiri dari satu jenis spesies (keadaannya homogen).
Ciri ekosistemnya adalah adanya perbedaan suhu dalam musim panas dengan musim dingin yang amat mencolok, pertumbuhan tanaman terjadi pada musim panas antara 3-6 bulan.  Pohon khasnya konifer, sdeangkan hewan yang hidup di kawasan taiga adalah moose, berunag hitam, ajak dan marten.  Burung-burung bermigrasi di musim gugur-dingin.Lebih ke utara di belahan bumi terdapat tundra.  Lokasinya sekitar kutub, sehingga iklimnya disebut iklim kutub.  Ciri-cirinya adalah daerah tundra mendapat sedikit energi radiasi, perbedaan siang dan malam dalam musim panas dan dingin sangat besar.  Rumput tumbuh menutupi tanah, tumbuhan berbiji tumbuh kerdil.  Dalam musim panas yang merupakan musim tumbuh inilah tumbuh-tumbuhan mendapat persediaan makanan untuk setahun.  Tumbuhan musim berbunga serempak, sehingga padang rumput dipenuhi oleh berbagai jenis hewan (misalnya rendeer, musk oxen, dan berunag putih).


























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hubungan antar makhluk hidup dengan lingkungannya sangat erat dan  saling ketergantungan, karena makhluk yang satu membutuhkan bantuan makhluk lain. Makhluk hidup membutuhkan lingkungan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya lingkungan juga membutuhkan makhluk hidup dalam kelangsungan hidupnya.
Individu adalah suatu struktur yang membangun suatu suatu kehidupan dalam bentuk organisme.  Populasi adalah sekelompok individu-individu jasad hidup (organisme) yang sejenis yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama dalam suatu tempat yang bersamaan.
Ekosistem adalah kesatuan komunitas dengan lingkungannya yang membentuk hubungan timbal balik. Ekosistem tersusun atas dua komponen utama, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik adalah komponen ekosistem yang hidup yang terdiri dari makhluk hidup yang meliputi tumbuhan, hewan dan manusia. Komponen abiotik adalah komponen ekosistem yang tak hidup yang meliputi tanah, air, udara, cahaya matahari, suhu atau temperature, mineral dan gas.
Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis.  Pembentukkan jaringan hidup selanjutnya tentu saja bergantung pula pada kemampuan tumbuhan menyerap pelbagai bahan mineral dari dalam tanah, yang seterusnya diolah dalam proses metabolisme.
Iklim, tumbuhan dan hewan merupakan ekosistem skala besar yang disebut daerah habitat atau bioma.  Kondisi suatu bioma dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik
Dari segi makanan ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Organisme Autotrof, adalah organisme yang dapat membuat makanan sendiri dengan memanfaatkan bahan organik yang terdapat di lingkungannya; (2) Organisme Heterotrof, adalah organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri dan mendapatkan makanannya dari makhluk hidup lain.
Berdasarkan terbentuknya, ekosistem dibedakan menjadi dua, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan.




3.2 Saran           
1.      Setiap makhluk hidup membutuhkan lingkungan yang sehat sebagai tempat tinggal. Oleh karena itu, kita harus menjaga kebersihan lingkungan terutama disekitar tempat tinggal kita.
2.      Jagalah kelestarian dan keberlangsungan hidup makhluk hidup, karena makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya saling ketergantungan dan tidak dapat hidup sendiri.
















  

  


  

DAFTAR PUSTAKA

http://www.zakapedia.com/2014/09/macam-macam-ekosistem-perairan.html